Wawancara Endank Soekamti: Merdeka, Mandiri, dan Penuh Strategi

  • 2014-11-20T09:34:20

Metro TV News – Enam album sudah Endank Soekamti hasilkan sejak tahun 2003. Asam-garam di industri musik juga sudah mereka lakoni, mulai dari membuat album dengan biaya terbatas, berada di bawah dua label besar, hingga kembali menjadi band independen.

Bicara kreativitas, Endank Soekamti adalah contoh. Mereka bukan hanya sebatas band independen yang tanpa naungan label besar.

Endank Soekamti mampu tumbuh menjadi sebuah korporasi yang menjanjikan, dengan beberapa lini bisnis di bawahnya. Endank Soekamti adalah band Indonesia pertama yang membuat seri dokumenter tentang pembuatan albumnya, juga membuat drama-seri yang terlihat seperti plesetan serial televisi Band of Brothers. Semuanya mereka garap sendiri, memberdayakan personel mereka dan orang-orang di sekitar mereka.

Pongki Barata, personel The Dance Company, dalam wawancaranya dengan Metrotvnews.com beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Endank Soekamti adalah sekumpulan pekerja keras yang patut menjadi contoh bagi band-band lain. Terutama soal kemandirian dan kreativitas mereka.

Endank Soekamti juga mampu mempertahankan konsistensinya sebagai raja pensi (pentas seni). Jumlah Kamtis (penggemar Endank Soekamti) yang luar biasa jamak selalu disasar para penyelenggara acara untuk memenuhi venue acara mereka.

Beranggotakan Erix, Ari, dan Dory, Endank Soekamti tumbuh sebagai band pop-punk yang tidak menggurui, tetapi mampu mengajak para Kamtis untuk jalan bersama dengan lirik-lirik sederhana juga jenaka.

Untuk menguliti band asal Yogyakarta ini lebih dalam, Metrotvnews.com berhasil menyeret Erix untuk ditodong sejumlah pertanyaan yang akan menjabarkan siapa Endank Soekamti sebenarnya.

Apakah Endank Soekamti dari awal dikonsep sebagai band pop-punk yang jenaka dan penuh humor?

Sebenarnya, semua berjalan itu enggak ada rencana. Ini adalah hobi kami nge-band. Karena kami suka, jadi kami nge-band ya nge-band saja. Masalah kejenakaan, ya biasanya kami orang Jawa (Yogyakarta) memang kayak begini. Pembawaan orang Yogyakarta, orangnya nyantai, kami enggak mau sok bule. Konten yang kami angkat itu lokal.

Musik (punk) itu kan dari barat, apalagi melodic punk. Ketika (dibawakan) kami ya jadi lokal. Kalau dibawakan dengan cara bule, bule-bule ngeliat biasa saja. Tapi, dengan kami melakukan apa adanya, mengangkat konten lokal, mereka akan menganggap ini unik. Orang kita sendiri juga akan merasa memiliki karena ada kedekatan.

Bicara punk, tidak bisa dipisahkan dari pergerakan sosial. Lantas, bagaimana dengan punk versi Endank Soekamti yang jenaka?

Yang penting itu menjadi diri sendiri. Apa adanya. Percuma sok-sokan punk tapi menjadi orang lain. Kalau ada yang mengganggap ini bukan punk ya terserah, tapi kami kayak gini. Gue enggak mau ambil suatu genre biar bisa masuk komunitas (kalian). Kami enggak begitu. Kalau (kalian) mau masuk (dan sesuai) selera (musik) kalian, ayo kita jalan bareng.

Ada kampanye sosial yang Endank Soekamti galakkan di luar musik?

Kalau kami lebih ke kreatifitas, memacu kreator-kreator muda. Kampanye sosial yang kami tawarkan lebih ke arah situ. (Kami) Enggak marah-marah ke pemerintah.

Lebih ke produktivitas, menemukan diri sendiri, menemukan siapa diri lu, lalu dari situ lu tahu apa yang harus diangkat dari potensi yang lu punya.

Makanya (Endank Soekamti)kan punya banyak lirik-lirik yang memberi semangat. Kayak lirik lagu Mantan jadi Teman, Itu kita bikin bukan untuk jualan, tapi memang benar dulu ada kejadian seperti itu walaupun yang mengalami kru. Jadi hal yang positif akhirnya.

Jadi, bisa dibilang Endank Soekamti (soal kampanye sosial dan musik punk) tidak seperti band punk lain?

Yang penting buat kami adalah ngomong apa yang kamu tahu, apa yang kamu rasakan. Menulis (musik) apa yang kamu mengerti dan kamu tahu. Bukan menulis untuk jualan, ujung-ujungnya jualan, ujung-ujungnya biar mengangkat nama band. Kalau aku, menulis yang aku ngerti saja. Enggak ngomongin politik. Aku menggali potensi-potensi yang aku tahu.

Ada rencana membuat karya tentang politik?

Itu masalahnya, dari dulu aku tidak terlalu tertarik dengan tren. Justru orang lain lagi senang melakukan hal apa, aku enggak pengin melakukan hal yang sama. Itu sudah basi buat aku.

Kalian bertiga sudah belasan tahun bersama, masih sering cekcok?

Ya pernah lah, justru kalau enggak pernah berantem terus berantem sekali, itu bahaya lho. Makanya (yang seperti itu) cepat bubar. Kalau kami, namanya saudara ya biasa saja. Berantem itu pastilah. Tapi semakin kesini kami semakin mengerti. Kadang, enggak usah bilang sudah ngerti.

Tidak bisa dipungkiri, citra Erix sebagai pentolan di Endank Soekamti sangat menonjol dan seolah bersinar. Bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Aku juga enggak berharap menjadi bersinar sendiri di band ini. Aku tanpa dua partnerku juga bukan siapa-siapa. Tapi, untungnya ini dianugerahkan. Satu yang jadi pemancing ide, satu yang jadi pemancing semangat, satu yang mengolah sistem. Jadi komplet.

Karena aku cuma ide doang, saat eksekusikan aku butuh dukungan, butuh dorongan. Ide itu bukan cuma wacana, tapi kami realisasikan. Kami yang penting senang. Pokoknya senang dulu lah. Kalau lu senang enggak kayak kerja rasanya.

Bisa diceritakan bagaimana Endank Soekamti memiliki ide kreatif dan lini bisnis yang kini dimiliki?

Kebetulan yang kerja di kita bukan dari kalangan profesional semua.Semua belajar dari nol. Semua belajar bersama.Lama-lama jadi besar.Jadi, Endank Soekamti punya banyak divisi. Punya Euforia Records, itu label rekaman yang menaungi divisi permusikan.

Sekarang merambah ke production house, namanya Euforia Audiovisual, yang dulunya ngerjain (proyek film) Endank Soekamti saja, sekarang mulai menggarap film-film orang, mulai editing, iklan juga, kebanyakan post-produksi, di Jogja (yang) punya mesin grading kita doang. Menyerap tenaga kerja juga. Ada juga Euforia Digital, web dan developer.

Kami belajar sendiri, datengin yang udah ahli. Karena di Yogyakarta banyak pendatang, kita jadi banyak belajar. Mereka belajar dan juga mengajar. Kami tangkap (ilmunya) lalu kami kembangin lagi. Lalu ada Euforia Pustaka, penerbit (buku).

Bagaimana manajemen kalian dengan banyak lini bisnis yang digarap?

Awalnya aku enggak ngerti. Akhirnya dipelajari. Kita sudah punya pengacara yang mengatur, kami punya manajer yang ahli di bidangnya. Kami enggak cari manajer yang harus ngerti musik, atau sejarah musik. Tapi dia manajemennya top, pemasarannya top. Mending milih yang begitu itu. Kalau soal kreatifitas serahin saja ke gue (personel Endank Soekamti). Jadi sudah ada job-desk masing-masing. Sekarang total karyawan ada 35 orang.

Saat ini Endank Soekamti sudah merdeka secara finansial dan dalam berkarya, apa lagi target ke depan?

Semuanya sudah, mau bikin apa saja itu kayaknya mikir sekarang besok sudah jadi. Tapi kami mikir lagi faktanya industri (musik) kita gini-gini aja. Akan sangat egois kalo kita menutup mata hidup dalam lingkkungan sendiri. Tapi gue enggak hidup dengan ini saja.

Aku tinggal di Indonesia yang mengajari aku segala macam. Nyatanya, saat ini masih ada band yang (personelnya) masih digaji. Kan kasihan sekali. Masih ada band yang kreativitasnya harus diatur dengan label. Harus ke Jakarta ngasih demo. Harus ke label besar, harus ketemu dengan ini-itu, dan itu susah. Kan kasihan.

Keberadaan kita (Endank Soekamti) inginnya ke depan untuk menjadi pemancing. Kalau kita bisa ya kamu juga bisa.

Dulu aku juga tanpa modal. sampai album ke-dua masih pinjem bass dari Adam (bassis Sheila On 7). Justru gue lebih merdeka ketika menginggalkan label. Boleh percaya boleh enggak, itu akan menjadi pemancing untuk orang lain (terutama band) di daerah.

Melihat ide dari Endank Soekamti yang meledak-ledak, bisa diceritakan seperti apa Anda di waktu kecil? Apakah sosok anak nakal yang penuh strategi?

Kalau itu jangan tanya aku, nanti aku lebih-lebihkan. Kalau ledakan kreativitasnya enggak dari dulu. Dulu aku enggak tau apa-apa.Lihat saja dari Endank Soekamti poduktivitasnya dari kapan? Jelas dari masa setelah lepas dari label.

Jadi, selama ini kita mendendam ide (saat bersama label mayor). Ilmunya ditampung,terus ilmunya lama-lama pecah. Jadi kami terus belajar. Kalau waktu kecil, sudah dari dari SMP enggak sama keluarga lagi. SMP aku ke Solo, aku dititipin di gereja, bermusik di gereja Kristen, dulu belajar alat musik macam-macam, makannya aku bisa semua.

Tapi, aku enggak pernah dapet jatah untuk tampil. Aku selalu jadisecond player, jadi operator juga. Makanya, sampai sebelum album Angka 8aku mixing sendiri.

Siapa sosok paling berpengaruh bagi Erix Soekamti?

Semua. Karena semua orang-orang ngajarin aku sesuatu. Pembantuku saja sudah kayak saudara. Karena kalau enggak kayak gitu, aku enggak belajar.

Tapi, sosok yang terpatri ya pasti ibu. Enggak ada larangan (dari ibu untuk bermusik). Aku disekolahin di sekolah musik. Aku masuk SMM (Sekolah Menengah Musik, setingkat SMA). Ibu juga yang nyuruh tindik telinga biar kayak Andre Hehanusa. Akhirnya ditindik sama bapakku, dikasih anting emas.

Lubang pierching Anda cukup lebar, menggunakan gigi perak, dan penuh tato. Dari mana pengaruh tren fesyen seorang Erix Soekamti?

Jelas dari tren, namanya anak muda, (dulu) masih belajar masih ngikut sana-sini, coba-coba. Menurutku kekhilafan masa muda yang berlanjut dan tetap keren juga setelah dilihat-ihat.

Hahaha..Kalau gigi itu aku putuskan sejak di era dewasa, pertimbangannya masalah identitas. Sebenarnya inikan bukan budaya bule, aku enggak tahu sejarahnya, tapi mbahku giginya emas semua, aku harap ini jadi konten lokal dan jadi ciri khas. Kan, jarang musisi yang kayak gini.Ini sebagai fesyen aja.

Seperti apa awal karier Endank Soekamti?

Endank Soekamti itu dari awal udah dicibir orang, udah dianggap band yang enggak keren. Tapi, itu anugrah buat aku.Dari namanya aja enggak keren, seperti beban. Tapi, dari situ kan membentuk karakter kita (personel Endank Soekamti). Aku dulu berpikir, Suatu saat mereka yang mencibir bakal minta tandatangan gue, minta sticker band gue. Jadi, bagaimana caranya ini band gue jadi bisa diakuin, bisa jadi keren.Tapi kami enggak pernah kepikiran ganti nama.

Mengapa Endank Soekamti tidak memilih vinyl sebagai strategi dalam penjualan album?

Daripada vinyl aku mending CD, vinyl itu produksinya makan biaya besar, lalu vinyl enggak cocok sama musik Endank Soekamti, dan terakhir bukan pasar Endank Soekamti banget. Realistis kan? Mending bikin sesuatu yang terjangkau buat penggemar, produksinya juga enggak keberatan. Ini lebih ke strategi. Vinyl juga ujung-ujungnya buat keren-kerenan juga kan. Nilai lain enggak ada.

Kapan seorang Erix Soekamti terakhir kali menangis?

Waktu anakku lahir, baru kemarin ini. Enam bulan yang lalu.

Bagaimana seorang Erix Soekamti dalam mengasuh anak?

kalo anak aku bebasin. Anakku yang gede (sulung) 6 tahun, namanya God Bless You, tadinya panggilannya God, tapi enggak boleh dipanggil itu sama mertua, jadi sekarang panggilannya Goku. Yang kedua namanya Barakallah. Panggilannya Barak. Mereka masih nakal-nakal standar saja. Nyanyi suka, gitar suka, tinju suka, bola suka.

Saya sekolahin di sekolah alam. Aku bebasin sebebas-bebasnya.Aku juga belajar dari dia, misalnya dia minta pisau, aku enggak kasih. Soalnya dia enggak bisa menggunakannya.

Aku pikir itu sama kayak Bapak-ku di atas (Tuhan), dan aku berpikir, Tuhan itu enggak akan ngasih begitu saja apa yang kamu minta, tapi dia ngasih yang kamu butuhkan. Kayak Goku enggak aku kasih pisau untuk kupas mangga, tapi dia butuh mangga yang terkupas, ya aku kupasin mangganya. Jadinya, aku malah belajar dari situ. Itu touching banget.

Goku dari kecil enggak pernah aku ajarin takut sama kecoa, takut sama setan, aku balik semuanya. Jadi dia sekarang enggak takut. Gelap juga enggak takut. Memang di keluarga aku terapkan tidak banyak memberikan ancaman terhadap anak, sebaliknya ditawarkan sesuatu yang jadi pacuan.

Pertanyaan terakhir, apa alasan Endank Soekamti melakukan kolaborasi dengan beragam musisi dari berbagai latar belakang?

Dulu orang berpikir ‘do it yourself’, tapi sekarang kita mikir ‘do it together’. Pertama, kita melakukan cross market, orang yang tadinya dengar Slank jadi dengar Endank Soekamti, yang tadinya dengar Cherrybelle jadi dengar kita juga.

Itu juga regenerasi, karena kalau enggak regenerasi penggemar kita kan makin lama makin tua. Butuh penggemar-penggemar baru lagi. Kalau ngajaknya SID kan biasa, sudah ketebak. Tapi, disini kita bikin (kolaborasi) yang enggak mungkin orang sangka.
FIT

Source : http://hiburan.metrotvnews.com/read/2014/11/17/319617/wawancara-endank-soekamti-merdeka-mandiri-dan-penuh-strategi